Twins Love

oleh: aozora_hime

“Loh kok aku sih , Ma?” tanya Dini pada Mama.

“Yah, mau gimana lagi. Besok Mama ada rapat mendadak di kantor relasi Mama. Pulangnya malam. Jadi, Mama nggak bisa jemput besok.”

“Kalo gitu, suruh aja pulangnya minggu depan. Nggak usah besok,” kata Dini dengan sewot. “Atau Pak Ali aja yang jemput. Soalnya besok Dini nggak bisa, Ma. Ada rapat OSIS.” Sebenarnya, besok nggak rapat, cuma ngumpul sebentar dengan para anggota. Dina sengaja cari alasan.

“Kamu nggak usah datang. Sekali-kali kamu izin, apa payahnya sih?”
“Duh..masa’ ketua OSIS nggak datang sih, Ma! Malu dong!”
“Dini!!” Mama berkata dengan nada meninggi. Dini terkejut. “Kamu itu nggak boleh lagi nyari-nyari alasan biar kamu nggak jemput kakakmu.”
Dini terdiam. Rupanya Mama udah tahu aku nggak suka dengan dia, pikir Dini.

“Din, saat ini kesempatan kamu untuk berdekatan kembali lagi dengannya. Pasti nanti kamu tidak percaya. Kakakmu itu udah berubah, bukan seperti dulu lagi,” Mama berkata pelan.
“Dini masih nggak percaya.”
“Maka dari itu Mama menyuruh kamu jemput Dina. Pokoknya tugas ini Mama percayakan kepadamu,” tegas Mama.

***
“Huh, sebel banget!!” gerutu Dini. Ia membanting dengan keras tas sekolahnya ke meja.
“Astaghfirullah, kamu kenapa, Din? Pagi-pagi udah naik darah gitu.” Sari heran.
“Gue tuh sebel banget, Sar!”
“Sebel kenapa lagi? Akhir-akhir ini kamu kok uring-uringan terus. Sekali-kali senyum dikit, napa. Bisa-bisa nggak ada lagi deh cowok yang ngejar-ngejar kamu.”

Dini memelototkan matanya. “Enak aja. Emang gue ini cewek murahan!”

“Iya-iya. Calm down, Din. Kalo kamu ada masalah cerita dong ke aku.”

Dini mengambil napas, lalu menghembuskannya perlahan. Ia ingin meredakan amarahnya. Memang benar apa yang dikatakan Sari, akhir-akhir ini ia jadi sering uring-uringan akibat tugas dan ekskulnya. Ditambah lagi tugas yang diberikan oleh Mama.

“Siang nanti, gue harus jemput kakak gue di bandara.”

“Wah, nanti kamu jemput kakakmu? Aku ikut ya!” Sari girang. Ia bakalan ketemu dengan kakaknya Dini. Ia sebenarnya udah lama pengen ketemu dengan Dina yang merupakan kembarannya Dini itu.

“Tapi, kok kamu jadi sebel gitu hanya gara-gara menjemput kakakmu?” tanya Sari tak habis pikir. Seharusnya, seorang adik itu pasti girang dengan kedatangan kakaknya, apalagi mereka sudah setahun berpisah. Apa nggak punya rasa sayang si Dini? pikir Sari.

“Iya, gue sebel aja. Loe tau kan gue tuh nggak suka dengan kakak gue. Gue masih trauma pas kedatangan dia tahun lalu, sikapnya udah berubah banget!” kata Dini.

Masih ingat di pikiran Dini, saat kedatangan kakaknya ke rumah. Gara-gara ia sekolah di London, makanya ia ikut-ikutan gaya barat disana. Penampilannya udah berubah, ditambah lagi sikapnya yang membuat Dini jengkel. Menyuruh-nuyruh dia memenuhi segala keinginannya. Mentang-mentang dia adik, jadi bisa menyuruh seenak perut.
“Mana tahu dia berubah kali. Bukan Dina yang dulu lagi!”
“Gue nggak yakin dia bisa berubah. Malahan besok udah tambah ancur aja tuh orangnya atau lebih parah lagi.”
“Huss! Kamu nggak boleh berkata gitu, Din. Setiap perkataan itu adalah doa. Mending kamu mendoakan yang baik aja.”
“Tapi, loe kok girang banget kalo gue besok jemput dia. Emang loe mau ngapain? Minta tanda tangan?” tanya Dini heran.
“Aku bukan aja minta tanda tangan, tapi ingin mengenal lebih dekat lagi.”
“Gila loe! Berani amat. Gue aja eneg deket dengan dia. Belum lagi kata-katanya kasar bikin hati sakit, tau nggak!”
“Biarin deh! Yang penting aku bisa ketemu sama dia. Kalo kamu nggak percaya dia udah berubah, nggak seperti dulu, liat aja besok.”
“Loe tahu darimana Dina udah berubah. Loe kan nggak kenal dia.”
“Ada deh!” Sari mengedipkan sebelah matanya. Dini mendengus.

***
princess_cute : “Assalamu’alaikum………..!!”
theBlue_girl : “Wa’alaikumsalam warrahmatullah…”
Malam Dini ingin curhat dengan salah satu teman chat-nya di London. Masalah ia dan kakaknya.
princess_cute : “Kaifa haluk?” ?
theBlue_girl : “Alhamdulillah bi khair! Ehem2 udah pinter bahasa arab nih ceritanya?”
princess_cute : “Baru dikit nih , Kak! Masih harus banyak belajar. Kak, Dini ingin curhat nih!!”
theBlue_girl : “Masalah apa dulu nih? Jangan tentang pacar ya!”
princess_cute : “Ya nggak dong, Kak! Pacaran itu kan haram. Ini tentang kakaknya Dini. Besok Dini mau jemput dia. Trus, Dini kok belum ada rasa sayang sama dia ya? Malahan, di dalam hati ini hanya ada rasa benci akibat kejadian tahun lalu itu. Kakak masih ingat dengan cerita adik kemarin?”
theBlue_girl : “Oh, kakak adik yang sekolah di London itu kan? Iya, Kakak masih ingat.”
princess_cute : “Nah, gimana dong Kak solusinya. Adik masih belum bisa menumbuhkan rasa kasih sayang buat dia.”
theBlue_girl : “Hm..gimana ya? Kakak pikirkan dulu nih jawabannya.”
princess_cute : “Jangan lama-lama ya, Kak!”
theBlue_girl : “Adik masih yakin banget, kalo kakakmu itu masih seperti dulu?”
princess_cute : “Maybe yes, maybe no! But I don’t know.”
theBlue_girl : “Aduh, payah juga dong, Dik!”
princess_cute : “Maksudnya, Kak?”
theBlue_girl : Gini, liat aja besok. Mana tau kakakmu itu berubah nggak seperti dulu lagi. Setiap manusia kan wajib berubah , Dik! Kalo pun ia masih tetap seperti dulu, adik tetap berusaha dekat dan sayang sama dia, karena dia itu saudaramu. Setelah adik berusaha, jangan lupa berdoa kepada-Nya. Pasti Ia akan menunjukkan jalan kemudahan. Semua hal yang adik alami itu pasti ada hikmahnya. Nggak mungkin kan Dia membebankan cobaan yang tidak bisa adik pikul.
Dini menganggukkan kepalanya. Rasa sebal yang ada didalam hatinya tadi, sudah mulai pulih.
theBlue_girl : Ayo, ketahuan ya kalo adik jarang berdoa buat kakaknya?

Dini meringis.
princess_cute : “Kakak kok tahu sih?”
theBlue_girl : “Iya dong! Habisnya adik masih suka sebel dengan dia. Kalo adik berdoa dan menyerahkan semua masalah adik kepada-Nya, pasti adik tidak ada rasa sebel atau uring-uringan lagi.”
princess_cute : “Adik nggak pernah dekat dengan dia?”
theBlue_girl : “Jarang kak! Dia pas SMP sekolah disana sampai sekarang. Kalo pulang pun hanya sekali setahun. Itu pun pulang kerumah Papa jarang banget ke rumah Mama.”
theBlue_girl : “Papa dan Mama udah bercerai ya?”
princess_cute : ”Iya. Mama ngambil Dini, sedangkan Papa ngambil Dina. Makanya kami terpisah dan jarang ketemu, walaupun kami kembar. Papa itu sayang banget sama Dina. Segala yang diinginkan pasti dikabulin.
theBlue_girl : “Loh, adik nggak disayang Papa rupanya?”
princess_cute : “Disayang tapi itu dulu. Dini sedih banget saat papa dan mama cerai. Belum lagi Dini harus pisah dengan Kakak. Saat teman Dini dekat dengan saudara dan orang tuanya, Dini malahan sebaliknya.”

Dini sudah sepuluh menit menunggu jawaban dari teman chatnya itu.

princess_cute : Buzz!!
theBlue_girl : “Aduh, afwan ya Dik. Tadi kakak ke belakang dulu. Oh iya, sebenarnya kakak juga sama lho dengan adik.”
princess_cute : “Dibagian mana Kak?
theBlue_girl : “Ya sama dengan masalah adik itu. Kakak juga punya seorang adik, kayaknya ia belum ada rasa sayang sama kakak.”
princess_cute : “Trus, Kak? Gimana dengan adik kakak itu?”

Dini penasaran juga dengan teman chatnya itu. Soalnya kalo ditanya tentang keluarga ataupun hal-hal yang bersifat pribadi, ia nggak mau jawab.

theBlue_girl : “Afwan ya dik. Kakak pamit dulu. Assalamu’alaikum..”

“Yah, malah pergi deh!” Dini keluar dari chat roomnya. Dia juga lupa menanyakan nomor hape the blue girl tersebut. Salah ia juga sih, kenapa nanya-nanya adik kakak tersebut, makanya dia kabur begitu.

***

“Nih, liat aja deh!” Sari menyodorkan sebuah majalah islam kepada Dini. Dini melirik sedikit dengan judul diatas dari halaman itu. Pejuang Islam dari Indonesia.

“Apaan nih?” tanya Dini heran.

“Kamu baca aja deh! Pasti kamu terkejut.” Sari meyakinkan Dini.

Andina Chandrawinata adalah seorang mahasiswi salah satu universitas di London. Saat ini ia tiba-tiba banyak disorot oleh media. Disebabkan aksi dia dan beberapa mahasiswa melawan peraturan baru di London yang melarang pemakaian jilbab di setiap instansi pemerintah.

Dini terkejut membacanya. Kakaknya adalah seorang pejuang yang diberitakan majalah ini? Ia terhenyak. “Loe serius, Sar. Ini kakak gue?” tanyanya tidak percaya.

“Yup. Kalo masih tetap tidak percaya, baca aja tuh sampai habis.”

Akibat keberaniannya menentang peraturan tersebut, ia dipenjara selama dua hari dan berjanji tidak akan membuat onar lagi dengan aksi dia dan teman-temannya. Belum cukup sampai disitu, ia juga ditangkap akibat ketahuan mencuri barang-barang di salah satu swalayan terkemuka. Dina, yakin sekali ia difitnah oleh orang yang tak dikenal dengan melakukan pencurian tersebut. Polisi tetap tak percaya apa yang dikatakannya. Mereka masih tetap menahannya, sampai orang yang telah memfitnah Dina diketemukan oleh pengacaranya yaitu Mr. Abdullah Hakim. Polisi yakin sekali Dina adalah pembohong besar yang ingin menghina rakyat Australia.

Setelah kasus Dina diusut sampai tuntas, barulah diketahui siapa orang yang tidak bertanggung jawab yang telah mencemarkan nama baiknya. Polisi tampaknya cuek dan tidak mau diliput oleh media, disebabkan selama penjara Dina disiksa habis-habisan sampai ia mengaku kalo ia yang mencuri barang-barang tersebut.

Walaupun ia baru keluar penjara, ia masih tetap gentar. Saat ini ia akan mengajak teman-temannya untuk bergabung diri dengan organisasi islam yang ia rintis baru beberapa pekan ini. Saat ini ia dijuluki dengan nama Zainab Al-Ghazali dari Indonesia.

Dini yang membaca berita itu menangis. Baru ia tahu kalo kakaknya sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Ia bukan Dina dulu lagi yang cuek, nakal, sombong dan segala sifat negatif yang ia tak sukai sampai sekarang. Rasa benci itu sekarang sudah berubah dengan rasa kangen, sayang dan juga tak sabaran ingin berjumpa kakaknya nanti siang. Dini melihat foto yang terpampang di majalah tersebut. Ya, ia yakin sekali itu adalah kakaknya. Sangat mirip dengannya.

***

Dini tidak menyangka yang berdiri di hadapannya Dina, sang kakak. Tak ada lagi rambutnya yang dicat pirang dan segala atribut yang sering dipakainya itu. Kini Dina adalah seorang aktivis dakwah. Ia tampak anggun dengan jilbab lebarnya.

“Ayo, Din! Masa kamu hanya pelototin aja tuh kakakmu?” Sari menyikut lengan Dini.
“Assalamu’alaikum. Dini gimana kabarmu?” tanya Dina duluan. Ia bingung juga dengan Dini yang diam mematung begitu.

“Eh, wa, wa’alaikum salam.” Dini jadi gugup. Kalo dulu, saat kepulangan Dina tak ada kata-kata ramah malah keluar kata-kata yang kasar.
“Ayo, pulang! Loe ngapain berdiri begitu terus? Dasar lelet! Angkat tuh koper gue!”
“Dini, sakit?” tanya Dina. Ia meraba kening adiknya.
“Nngg, nggak kok. Ayo, Din kita balik kerumah.”

Selama perjalanan pulang, Dini belum berani ngomong. Sedangkan di bagian duduk belakang, Sari dan Dina sedang seru-serunya ngomong. Dini tidak mau ikut gabung. Pikirannya sedang konsentrasi ke jalan.

“Din, nanti ikut aku gabung organisasi islam yang baru kamu rintis itu.”
“Boleh, kok. Insya Allah, rencananya disini akan dibuat cabangnya.”
“Subhanallah, kamu berani banget ya menentang peraturan melarang pemakaian jilbab, kalo aku pasti nggak berani.”

“Kalo, kita sudah cinta dengan agama Allah, pasti kita berani berkorban untuk menentang orang-orang yang berani menentang ajaran kita, walaupun nyawa menjemput. Itu yang namanya jihad fi sabilillah,” Dina berkata dengan mantap.

Tak terasa air mata Dini meleleh mendengar perkataan Dina barusan. Ia iri dan juga bangga dengan perjuangan Dina di London sana. Sesampai di rumah nanti, ia ingin memeluk kakaknya itu dan meminta maaf selama ini ia selalu tak suka dan benci.

***
theBlue_girl : “Assalamu’alaikum warrahmatullah…”

Dini terkejut dengan nick name yang sudah tidak asing lagi itu. Tumben nih dia chat lagi, pikir Dina. Udah satu bulan ia tidak chat dengan theBlue_girl. Dina sudah bersusah payah mencari nick name tersebut, tapi sekarang theBlue_girl menyapa duluan.

princess_cute : “Wa’alaikum salam. Wah, udah lama kita nggak chat lagi. Kakak kemana aja selama ini? Adik pengen cerita banyak kali nih! Bulan lalu, kakak Dini udah pulang. Dan tau nggak dia udah berubah seperti yang kakak bilang!
theBlue_girl : “Subhanallah, gimana ceritanya?”

Dina menceritakan dengan lengkap semuanya. Satu jam lebih mereka bercerita.

theBlue_girl : “Sebenarnya, Andina yang adik ceritakan itu sekarang ada dihadapan
Dina.”
princess_cute : “Hah?! Mana kak orangnya?”

Maksudnya apa sih? Dini berpikir sebentar. Loh, jadi theBlue_girl ini kakakku? Nggak mungkin!!, teriak Dina dalam hati. Masa’
sih?!
princess_cute : “Jadi, kakak Dina?”
theBlue_girl : “Yah, kalo nggak mau percaya ya udah! Aku pamit dulu. Hari ini ada rapat penting. Assalamu’alaikum.”

Belum sempat Dina menuliskan jawabannya, Dina keburu pergi. “Yah, nih orang pergi lagi! Gue kan nggak nanya yang aneh-aneh lagi. Tapi, dari tadi perasaan gue kok nggak enak mulu. Ada apa nih?” Dini berkata.

***
Assalamu’alaikum,

Buat adikku yang tersayang, Dini.

Maafkan kalo selama ini aku selalu berbuat salah kepadamu dari dulu. Mungkin rasa sakit hati yang kamu pendam itu belum juga hilang. Aku khilaf. Tolong maafin aku ya!

Saat aku chat denganmu dan berpura-pura memakai nick name theBlue_girl, dari sana aku sadar. Kamu memang belum bisa memaafkan kakakmu ini. Kamu masih ingat dengan perlakuan papa yang lebih menyayangi aku daripada kamu. Ditambah lagi, perlakuan kasar yang kamu terima setiap aku pulang ke rumah. Aku yakin sekali, di lubuk hatimu yang paling dalam pasti ada rasa sayang kepada saudaramu yang hina ini walaupun nilainya sangat kecil sekali.

Sebenarnya, aku sekolah di London itu bukan keinginanku tetapi itu adalah keinginan papa. Karena aku nggak suka dengan perlakuan papa yang diktator itu, akhirnya aku pun terjerumus dengan pergaulan yang ada disana. Dimasa-masa suram itu, aku mendapatkan hidayah dari-Nya dan kasih sayang lewat seorang sahabat yang sangat peduli dengan keadaanku di awal masa kuliah. Sebenarnya aku ingin mendapatkannya dari adikku. Tapi, jarak merupakan halangan kita.

Sebelum lupa, aku tidak akan melupakan pertemuan kita kemarin. Aku nggak tau apakah itu akan terus berlanjut atau itu adalah yang terakhir kalinya. Sampai kapanpun, aku masih tetap sayang kepadamu. Do’akan aku agar selalu tetap istiqomah dan semangat dijalan dakwah ini. Permintaan terakhirku, jika aku dijemput oleh-Nya tolong pimpin organisasi dakwah yang aku rintis ini. Kamu satu-satunya yang bisa melakukannya!

Sebelum berpisah, sekali lagi aku minta maaf..!

Dini menghapus air matanya, Itu adalah email terakhir yang dikirim oleh Dina sebelum ia pergi untuk selama-lamanya. Zainab Al-Ghazali itu meninggal ditembak mati oleh orang yang tak dikenal. Saat ia sedang memimpin rapat organisasi islam pertamanya di London. Sampai sekarang, para polisi belum bisa memastikan siapa tersangka penembakan tersebut.
***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: