Jihad Perempuan

Wacana yang dikembangkan kaum muslim konservatif, seperti yang dapat dibaca para karya-karya tafsir klasik, telah memposisikan kaum perempuan ke dalam wilayah rumah (domestik/privat). Meskipun kaum perempuan dapat melakukan aktivitas publik, akan tetapi dalam pandangan mereka, tetap saja aktivitas itu mengalami pembatasan-pembatasan. Seluruh ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara tentang perempuan, dibaca secara skripturalistik dan ditafsirkan dalam perspektif kebudayaan Arab yang patriarkhis, kebudayaan menjadi serba laki-laki. Satu ayat al-Qur’an yang selalu dijadikan justifikasi atas pandangan ini adalah “al-Rijal qawwamuna ‘ala al-nisa…”/laki-laki adalah pemimpin atas kaum perempuan… (QS. Al Nisa, 34). Ayat ini secara eksplisit menjelaskan tentang posisi subordinat perempuan dan kekuatan laki-laki. Para ahli tafsir klasik kemudian menempatkan ayat ini sebagai sentra untuk menafsirkan ayat-ayat lain yang berhubungan dengan soal-soal perempuan.

Pada sisi lain perempuan juga dipandang sebagai makhluk lemah dan kurang akalnya dibanding laki-laki. Pernyataan ini merujuk pada bunyi sebuah hadis Nabi saw: “aku tidak melihat orang yang kurang akal dan agamanya, yang meluluhkan hati laki-laki selain salah satu dari kalian”. Jalal al-Suyuthi, salah seorang penafsir terkemuka, dalam al-Asybah wa al-Nazhair telah menganggap kelemahan perempuan sebagai sesuatu yang melekat dalam sifat keperempuanannya (shifah qarinah bi unutsah al-mar’ah). Dalam arti lain, kelemahan adalah inheren dalam diri perempuan. Karena itu menurutnya Tuhan tidak membebani mereka dengan tugas-tugas yang dibebankan laki-laki, seperti shalat berjama’ah, jum’at, jihad dan jizyah. Oleh karena itu jihad dalam pengertian perang hanya diwajibkan terhadap kaum laki-laki dan tidak terhadap kaum perempuan, kecuali jika sudah menjadi fardhu ‘ain (kewajiban individual). Dalam arti lain jihad perang adalah kewajiban kolektif laki-laki. Ketika seorang perempuan datang kepada Nabi dan menanyakan keterlibatan mereka dalam jihad perang, beliau memberikan jawaban: “hadza al-jihad katabahu Allah ‘ala al-rijal”/Jihad perang ini diwajibkan Allah kepada kaum laki-laki”. Khathib Al Syarbaini dalam tafsirnya al-Siraj al Munir, ketika menafsirkan ayat “li al-rijal nashib min maa iktasabu wa li al-nisa’ nashib min maa iktasabna”/bagi laki-laki bagian dari apa yang diusahakannya dan bagi perempuan ada bagian dari yang diusahakannya” mengatakan : “Laki-laki mendapat pahala karena jihad (perang) dan perempuan memperoleh pahala dari usahanya berupa menjaga “kehormatannya” (lihat Ta’liq wa takhrij syarh ‘Uqud al Lujain, hal. 45).

Keterlibatan kaum perempuan dalam jihad perang sebagaimana yang berlangsung pada masa Nabi, menurut pandangan klasik dibatasi pada wilayah “pembantu” atau untuk kerja-kerja ringan, seperti merawat prajurit yang luka, memasak dan melayani kebutuhan-kebutuhan tentara. Jihad perempuan dalam pandangan mereka sejatinya adalah di rumah, mengurus dan melayani suami serta rumahtangganya. Pandangan ini juga memperoleh legitimasi dari hadis Nabi saw : “Sampaikan kepada kaum perempuan yang kamu jumpai, bahwa ketaatannya kepada suami dan pengakuan atas hak-haknya adalah sebanding dengan itu (jihad)”. Sementara Al-Qur’an sendiri tidak menyebutkan masalah jihad perang hanya khusus laki-laki, para ahli fiqh klasik juga telah membakukan pandangannya bahwa perempuan dalam kondisi fardhu kifayah (kewajiban kolektif) tidak wajib berperang, karena kesibukannya melayani suami. Wahbah al-Zuhaili, mengutip pandangan para ahli fiqh klasik, menyebut tujuh syarat wajib jihad; Islam, baligh (dewasa), berakal, merdeka, laki-laki, sehat jasmani dan ada perbekalan (al Fiqh wa Adillatuh, hal. 5851).Jangankan untuk perang, sebagian ahli fiqh juga bahkan mengharamkan kaum perempuan terjun pada dunia politik, karena alasan lemahnya fisik mereka dan keamanan diri mereka dari “tatapan binal” mata laki-laki.

Pandangan ini sebenarnya dengan segera terbantahkan oleh fakta-fakta sejarah perang pada masa Nabi saw. Sejumlah perempuan ikut berperang bersama beliau dengan memanggul senjata dan terbunuh, dan tidak sekedar menjadi anggota semacam PMI (atau Al-Hilal al-Ahmar/BSM ; Bulan Sabit Merah). Sejumlah kitab hadis sahih menyebutkan kenyataan sejarah ini. Semua menunjukkan bahwa keterlibatan atau ketidakterlibatan perempuan dalam jihad perang dan dalam wilayah politik yang lain sebenarnya bukanlah sesuatu yang essensial, akan tetapi kemaslahatan yang didasarkan atas konteks sosial telah melahirkan keputusan-keputusan tersebut. Dan ini bukanlah keputusan-keputusan normatif, melainkan kontekstual, sosiologis dan historis.

Sementara itu, jihad dalam pengertian perjuangan moral dan spiritual, jihad tanpa kekerasan dan bersenjata telah dengan sangat jelas dikemukakan dalam banyak ayat al-Qur’an. Perjuangan moral dan spiritual adalah perjuangan menegakkan keadilan, kebenaran dan kesalehan. Semua tema ini terangkum dalam istilah yang sangat populer dan menjadi inti keseluruhan perjuangan dalam kehidupan orang-orang beriman; “amar ma’ruf nahi munkar”. Perintah al-Qur’an mengenai ini tidak dibatasi hanya terhadap laki-laki, tetapi juga perempuan. Meskipun pandangan-pandangan konservatif telah membatasi perjuangan kaum perempuan hanya dalam ruang sempit bernama keluarga, tetapi pandangan Tauhid, paradigma kesetaraan manusia dan keadilan, memberikan peluang kepada kaum perempuan untuk berjihad dalam ruang-ruang sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan. Jihad membangun kebersamaan dan tanpa diskriminasi, menegakkan keadilan dan menghapuskan segala bentuk kezaliman, serta mewujudkan kesalehan budaya dan membatasi keserakahan nafsu, harus menjadi cara-cara kehidupan manusia ke depan. Inilah makna jihad akbar sekaligus sebuah bentuk kerahmatan semesta yang menjadi cita-cita Islam. Wallahu A’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: