Ulama Harus Pikirkan masa Depan

MUSKAT– Para ulama dan intelektual Muslim terkemuka dari seluruh dunia menghadiri Konferensi Oman guna membahas hukum Islam dalam menghadapi masa depan. Konferensi tahunan yang berlangsung pada 4 hingga 7 April itu akan mencoba meletakkan fondasi fiqh at-tawqu atau (fikih harapan) yang berhubungan dengan harapan di masa depan, rencana, serta kaidah yang mengaturnya. ”Manusia diciptakan bukan untuk bersenang-senang,” ungkap Syekh Ahmad Al-Khalili, mufti Kesultanan Oman dalam pembukaan seminar internasional yang bertajuk Islamic Fiqh (jurisprudence) and the Future. Menurut Syekh Ahmad, manusia dipercaya untuk mengemban tugas yang berat. ”Bumi dan surga pun menyatakan tak mampu memikul tugas itu.” “Oleh karena itu, kita harus mendidik diri kita sendiri agar mampu mengemban tugas itu,” tutur Syekh Ahmad. Tampil sebagai pembicara dalam seminar itu ulama dan intelektual Muslim termasyhur dari 14 negara di dunia. Konferensi internasional itu digelar di Masjid Agung Sultan Qaboos. Dalam konferensi itu, akan dibahas sekitar 36 judul makalah dan hasil studi. Kepala Departemen Media pada Kementerian Wakaf Oman, Khalid Musharrafi, menuturkan, konferensi internasional yang membahas pentingnya memikirkan masa depan ketika akan mengeluarkan aturan yang bisa berdampak pada masa depan itu menarik perhatian para ulama Muslim. “Ketika mencari masa depan, para ulama tak boleh mengabaikan aturan yang ditetapkan dalam hukum Islam,” papar Khalid. Hal senada juga diungkapkan Prof Wahbah Az-Zuhaiyi, presiden Liga Ulama Suriah. Menurut Prof Wahbah, seorang ulama yang berkualitas akan peduli pada keadaan dan kondisi yang berubah-ubah. “Mereka harus memikirkan masa depan dan dampaknya,” kata Prof Wahbah menegaskan. Pertemuan itu juga akan membahas solusi dari dampak krisis keuangan global yang menghantam perekonomian negara-negara di dunia. Terkait krisis global, konferensi internasional itu akan menghadirkan lima makalah dan hasil studi. ”Salah satu makalah akan fokus pada solusi praktis dalam mengatasi masalah-masalah keuangan global,” ujar Khalid menambahkan. Tahun lalu, Konferensi Islam Oman membahas kemungkinan untuk menyatukan hukum Islam yang dapat diterapkan setiap orang. ”Kita perlu membuat satu kodifikasi hukum yang harus diikuti setiap orang dan dapat diterapkan setiap orang,” tutur Prof Qutub M Sano, wakil presiden International Islamic University Malaysia. Menurut dia, kodifikasi merupakan salah satu alat yang diperlukan untuk menghidupkan kembali hukum Islam. Konferensi Islam Oman selalu mengangkat masalah-masalah yang unik, namun penting. Tak heran, jika para ulama dan intelektual Muslim dari berbagai negara tertarik menghadiri pertemuan tersebut. Pertemuan itu juga selalu mengkaji masalah-masalah fikih atau hukum Islam(republika)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: