Sekarang kita Semua adalah HAMAS

Sekarang, Kita Semua adalah Hamas
Tiga minggu penyerangan Israel ke Jalur Gaza, justru mampu “membantu” merekrut Hamas dalam jumlah besar!
Hidayatullah.com–“Apa
syaratnya seseorang bisa menjadi anggota Hamas?” tanya seorang pemuda.
Pria ‘alim yang duduk di kursi roda itu tidak membutuhkan lebih dari
satu detik untuk menjawab pertanyaan pemuda tadi.   “Ketika Anda mengangkat tangan berdoa untuk kemenangan para Mujahidin membebaskan Al-Aqsa, sejak itu Anda seorang Hamas.”  Pria itu adalah “Asy-Syahid”
Syeikh Ahmad Yasin, yang dirudal oleh Israel di atas kursi roda yang
sama, beberapa meter sekeluarnya beliau dari masjid tempatnya shalat
subuh berjama’ah.  Kisah ini disampaikan oleh Abu Ayman, salah satu sahabat Syeikh Yasin dari tujuh pria pendiri Hamas (Harakah Muqawamah Al-Islamiyah; gerakan perlawanan Islam) yang masih hidup, dan beberapa bulan lalu diwawancarai oleh reporter http://www.hidayatullah.com di suatu kamp pengungsi Palestina di Damaskus, Suriah.  Dalam
tiga minggu penyerangan biadabnya ke Gaza (27 Desember 2008 sampai 17
Januari 2009), Zionis Israel justru telah “membantu” rekrutmen anggota
Hamas dalam jumlah terbesar sejak berdirinya tahun 1987.  Jutaan
orang baik Muslim maupun bukan turun ke jalan kota-kota dunia seperti
Caracas, Madrid, Seoul, Jakarta, Montevideo, Kuala Lumpur, Istanbul,
Buenos Aires, London, Teheran dan banyak lagi, menyatakan kemarahannya
atas pembantaian rakyat Gaza.  Jutaan
orang lainnya, di seantero dunia, lima kali sehari di akhir rakaat
shalat-shalat fardhunya mengangkat tangan membacakan doa Qunut Nazilah
agar para Mujahidin dimenangkan dan para musuh dilaknati Allah.    Organisasi hak asasi manusia Al-Mizan Center
mencatat, jumlah korban yang syahid selama penyerangan yang dilakukan
Israel tempo hari mencapai 1.253 orang, termasuk setidaknya 280 orang
anak dan 95 orang perempuan. Sejumlah 4,009 orang luka-luka, termasuk
860 orang anak dan 488 perempuan. Hamas secara resmi mengumumkan 48
orang anggotanya syahid diantara para korban. Namun ratusan jenazah
masih terus ditemukan dari reruntuhan bangunan yang kini mulai
dibongkar.
Pasti,
pengorbanan ini tidak sia-sia. Seperti juga pemboman 9/11 yang diduga
kuat oleh banyak ahli sebagai bikinan rezim George W Bush sendiri untuk
memfitnah umat Islam, fitnah Israel yang menggembar-gemborkan
‘kejahatan’ Hamas justru berbalik mengundang simpati masyarakat dunia
kepada gerakan perlawanan Islam ini.  Adian
Husaini, kolumnis dan pemikir muda terkemuka, mencatat, “Belum pernah
ada kejadian di belahan bumi lain, yang mengundang simpati emosional
bangsa Indonesia sebesar penyerangan terhadap Gaza ini. Artis-artis,
anak-anak sekolah, rakyat jelata semua bersimpati ada perjuangan rakyat
Palestina.”  Hamas antara Demokrasi dan Syariah   Wartawan
Palestina lain yang tidak berada di Gaza adalah Khalid Amayreh, tinggal
berpindah-pindah antara Nablus dan Jerusalem di Tepi Barat. Ia
mengomentari niat Israel menghancurkan Hamas.  “Antara
menghancurkan pemerintahan Hamas dan menghancurkan gerakan Hamas adalah
dua hal yang sama sekali berbeda,” tulisnya dalam sebuah artikel yang
diterbitkan Palestinian Information Center (PIC).    Sejak
berdirinya 21 tahun silam, Hamas memang telah berhasil mengubah arus
perjuangan kemerdekaan Palestina, dari Nasionalis-Marxis-Sekular di
bawah kepemimpinan Yasser Arafat, menjadi perjuangan yang lebih
universal dan berdimensi akhirat lewat perlawanan Islam.    Meskipun
kehilangan 48 kader terbaiknya, serangan Israel baru lalu justru
semakin mengangkat nama Hamas. Orang jadi semakin kenal, meskipun Hamas
menggunakan demokrasi sebagai alat, jihad tetap panglimanya. Para
pemimpinnya tetap berada di tengah-tengah rakyat meskipun dalam keadaan
terburuk. Contohnya, Menteri Dalam Negeri Sayyid Shiyam dan Nizar
Rayyan, salah seorang ulama dan komandan lapangan di Gaza. Keduanya
syahid bersama keluarganya.  Meskipun
juga menggunakan media demokrasi, Hamas selalu tunduk pada tuntunan
para ulamanya dari hal-hal yang sifatnya besar dari masalah diplomasi
dan kenegaraan sampai hal-hal terkecil.   Salah seorang ulama Hamas yang diwawancarai oleh http://www.hidayatullah.com Syeikh Abu Bakar Al-Awawidah di Damaskus, Syuriah, menceritakan sebuah pengalaman menarik.   “Khalid
Misy’al kepala biro politik Hamas dulunya gemar mengenakan dasi, namun
sesudah saya tegur beberapa kali dan saya ingatkan bahwa simpul dasi
itu sebenarnya berbentuk salib. Sejak itu sampai sekarang sampai hari
ini dia tidak menggunakan dasi. Begitu juga untuk urusan-urusan yang
lebih besar,” ujar Syeikh Abu Bakar.   Para
pemimpin Hamas tunduk pada ulama, karena ulamanya berjihad, dan bukan
sebaliknya ulama dipaksa tunduk pada kepentingan politik.    Meskipun
menggunakan demokrasi sebagai alat, dan ikut pemilu, Hamas tidak pernah
berpura-pura menggunakan retorika kemanusiaan atau kebangsaan
(Humanisme atau nasionalisme). Baik kepada lawannya maupun kawan, para
pemimpin Hamas selalu berterus terang bahwa mereka ingin menegakkan
syariat Islam di seluruh tanah Palestina, meskipun sikap itu berakibat
mereka harus digebuki di berbagai arah. Di antaranya dengan
penangkapan, penculikan para tokohnya, dan yang terbesar penyerangan
Israel yang baru lalu. Namun begitu, Allah mentakdirkan rakyat
Palestina semakin mencintai Hamas. Ketika diwawancari oleh media-media
asing, sejumlah penduduk Gaza di jalan-jalan, menyatakan dengan jelas.   “Kami tidak pernah menyalahkan Hamas, Israel memang menyerang rakyat sipil.” [M. Isa, Damaskus, Suriah/www.hidayatullah.com]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: