Berkaca Pada Politik Islam di Turki (1)

Apa yang dicapai Erdogan sekarang ini sesungguhnya bukanlah hasil
sulapan semalam, namun hasil dari proses keteladanan, kesungguhan, dan
keteguhan politik Islam di Turki sekuler. Model perjuangan para politisi
Islam dan juga partai politik Islam di Turki modern banyak menginspirasi
partai-partai Islam di berbagai negara di dunia.

Keberanian Perdana Menteri Turki, Recep Tayyib Erdogan (Rajab Thoyib
Erdogan), mendamprat Presiden Zionis-Israel, Shimon Perez, dalam
pertemuan Davos, Januari lalu mengagetkan seluruh dunia. Bukan saja
membuat kagum para akivis kemanusiaan dunia, namun juga membuat merah
telinga Shimon Perez sendiri yang sangat terlihat dari gestur wajahnya
yang tertekan saat Erdogan meninggalkan begitu saja podium tanpa
menyalami Perez. Banyak orang Islam di berbagai negeri mengeluh, mengapa
bukan para pemimpin Arab yang bersikap demikian, mengapa bukan para
raja-raja dan pangeran Saudi dan juga Presiden Mesir yang mampu bersikap
jantan seperti itu, mengapa mereka malah memperlihatkan sikap pengecut
terhadap Zionis-Israel? Liga Sekjen Arab, Amr Mousa sendiri, menyatakan
salut dengan Erdogan, “Saya rasa tidak ada satu pun orang Arab yang
berani bertindak seperti Erdogan!”

Di Indonesia, banyak kalangan menyatakan mengapa bukan SBY yang berani
bersikap demikian? Pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “Jangankan berani
mendamprat Zionis secara langsung, menghadapi pernyataan kontroversial
salah seorang petinggi Demokrat yang membuat kuping Golkar merah saja
sudah kalang-kabut. Nyali pemimpin seperti itu sudah bisa terbaca ketika
Bush mau berkunjung ke Bogor beberapa tahun lalu. Ketika itu SBY amat
sangat berlebihan dalam menyambut Bush, merusak sebagian lahan Kebun
Raya Bogor untuk dibangun Helipad yang akhirnya tidak dipakai Bush,
menempatkan tentara berseragam dengan perlengkapan tempur garis pertama
dalam jarak setiap dua meter mengepung rapat istana Bogor, bagaikan
seorang lurah di pedesaan yang menyambut kehadiran seorang Kaisar Dunia.
Sebab itu dia dilecehkan Bush, yang dengan nakalnya meloncat keluar dari
mobilnya saat berhenti tepat di depan SBY.”

Dari podium pertemuan Davos tersebut, Erdogan langsung pulang ke Turki.
Di negerinya, Erdogan disambut bagaikan pahlawan besar. Turki modern
telah menorehkan sejarahnya sendiri dengan tinta emas, dan mengatakan
kepada dunia jika Turki adalah sebuah bangsa yang besar dan berani
membela keadilan dan kebenaran. Padahal dunia juga tahu jika Turki
Modern adalah Turki yang masih menjunjung tinggi asas sekularisme,
bersahabat dekat dengan Uni Eropa dan Amerika, membuka hubungan
diplomatik dengan Zionis-Israel, dan sebagainya. Namun siapa tahu, jauh
di lubuk hati orang-orang Turki, mereka sungguh-sungguh mendambakan
sebuah Turki yang sangat gemilang saat Turki masih menjadi sentral bagi
kekhalifahan Islam.

Apa yang dilakukan Erdogan terhadap tokoh Zionis tersebut seolah
mengulangi sebuah episode sejarah keemasan Turki saat dipimpin oleh
Khalifah Sultan Abdul Hamid II di awal abad ke-20. Saat itu Theodore
Hertzl, pemimpin Gerakan Zionis Internasional, mendatangi Abdul Hamid
untuk meminta agar Turki Utsmani mau membagi sebagian tanah Palestina
untuk dijadikan negara Israel. Permintaan Hertzl ini disertai dengan
bujuk rayu dan janji, jika keinginannya dituruti maka Turki dan juga
Sultan Abdul Hamid II akan diberi hadiah sangat besar oleh gerakan
Zionis Internasional.

Namun dengan sikap tegas Abdul Hamid mengusir Hertzl seraya berkata,
“Turki tidak akan pernah sekali pun menyerahkan Tanah Palestina kepada
kamu hai orang-orang Yahudi. Tanah Palestina bukanlah milik Turki,
melainkan milik seluruh umat Islam dunia. Jangan bermimpi bisa menginjak
Tanah Palestina selama saya masih hidup!”

Sebab itu, Hertzl dan para tokoh Zionis lainnya merancang suatu
konspirasi untuk menghancurkan kekhalifahan Islam Turki Utsmani sehingga
kekhalifahan ini benar-benar ambruk pada tahun 1924 dan Turki pun diubah
menjadi negeri Sekuler. Salah satu konspirasi Zionis adalah dengan
menggandeng Abdul Wahab untuk memberontak terhadap Turki Utsmaniyah dan
mendirikan Kerajaan Arab Saudi, suatu monarki absolut yang sesungguhnya
merupakan suatu bentuk pemerintahan yang bertentangan dengan Sunnah
Rasul SAW alias Bid’ah kubro. Sebab itu, sampai hari ini para pemimpin
Saudi Arabia bisa bermesra-mesraan dengan kaum Zionis, baik yang Israel
maupun yang Amerika, namun menyimpan kecurigaan yang berlebihan terhadap
kelompok-kelompok perjuangan yang ingin membela izzah Islam seperti
HAMAS dan sebagainya.

Sebab itu pula, ketika sekolah-sekolah di Turki yang notabene mengaku
Sekular setiap hari mengumpulkan amplop berisi sumbangan uang para murid
untuk diberikan kepada rakyat Palestina di jalur Gaza yang tengah
dibantai Zionis-Israel, lembaga-lembaga pendidikan yang berkhidmat pada
penguasa Saudi model seperti ini-termasuk yang berdiri di
Indonesia-tidak tergerak hatinya untuk turut menyumbangkan amplop berisi
uang kepada rakyat Palestina. Bahkan di masjid-masjid, ketika umat Islam
mendirikan sholat ghaib bagi Muslim Palestina, para taklid-buta Saudi
ini tidak bersedia melakukannya dengan alasan bid’ah. Naudzubillah min
dzalik!

Ada sebuah hadits Rasulullah SAW tentang hari akhir yang berbunyi, “Kamu
akan akan memerangi Semenanjung Arabia, lalu Allah akan menaklukkannya
untukmu. Setelah itu Persia, di mana Allah akan menaklukkannya untukmu.
Kemudian Rum, di mana Allah akan menaklukkannya untukmu. Kemudian kamu
akan memerangi Dajjal, dan Allah akan menaklukkannya untukmu.” (HR.
Muslim). Adakah hadits tersebut memerintahkan pasukan Muslim di bawah
komando Imam Mahdi untuk menghancurkan para pemimpin Saudi yang
kelakuannya seperti sekarang ini? Wallahu’alam bishawab. Semoga saja
tidak dan semoga saja tidak semua pemimpin Saudi dan para pengikutnya
seperti itu. Amin.

Politik Islam Turki

Saat ini Erdogan mendapat nama yang harum, bukan saja di mata rakyat
sipil Turki, namun juga di mata para pemimpin militer Turki yang selama
ini dikenal sebagai penjaga garis Sekulerisme paling gigih dan
konservatif. Padahal, mereka tahu semua jika Erdogan berasal dari partai
yang kental dengan Islam dan memiliki seorang isteri yang juga menutup
aurat.

Apa yang dicapai Erdogan sekarang ini sesungguhnya bukanlah hasil
sulapan semalam, namun hasil dari proses keteladanan, kesungguhan, dan
keteguhan politik Islam di Turki sekuler. Model perjuangan para politisi
Islam dan juga partai politik Islam di Turki modern banyak menginspirasi
partai-partai Islam di berbagai negara di dunia. Dalam tulisan kedua
akan dipaparkan sejarah awal Turki sekuler dan awal kembang-tumbuhnya
partai Islam di sana. (bersambung/ rd)

One Response

  1. Sanggupkah turki melawan Israel ?? beranikah?? atau cuma gertak sambal?? kita tunggu tanggal mainnya…

    Setahu saya yang mampu melawan israel di medan perang sampai saat ini hanya Hizbulloh di lebanon di mana tank tank Israel banyak yang mereka hancurkan dan berhasil menekan Israel untuk tidak banyak bicara di sana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: